Oleh : Andika Prawanto

Dosen : Budidaya Tanaman Hortikultura (AKN) Rejang Lebong

Bagi siapa pun yang pernah menapakkan kaki di hamparan sawah , pemandangan cangkang berwarna cokelat keemasan yang menempel di batang padi bukanlah hal asing. Keong Mas (Pomacea canaliculata), makhluk kecil yang terlihat lamban ini, sejatinya adalahmesin penghancur” yang paling ditakuti petani. Di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, seranganKeong Mas bisa menjadi malapetaka bagi tanaman padisehingga menurunkan hasil produksi tanaman padi.

Namun, dari penelitan dari Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong (AKREL), narasi tentang Keong Mas mulai ditulisulang. Jika selama ini Keong Mas dianggap sebagai musuh yang harus dibasmi dengan racun kimia, penelitian terbaru justrumenunjukkan bahwa makhluk ini menyimpan potensi luar biasauntuk menjadi sumber kesuburan tanah. Hama yang tadinyadibenci, kini bertransformasi menjadi Pupuk Organik Cair(POC) berkualitas tinggi.

Dilema Hama dan Racun Kimia

Selama puluhan tahun, petani sawah di Rejang Lebong, sangat bergantung pada pestisida kimia untuk mengendalikan Keong Mas. Cara ini memang instan, namun dampaknya mengerikanbagi ekosistem jangka panjang. Tanah menjadi keras, mikroorganisme baik mati, dan biaya produksi petani kianmembengkak karena harga racun yang terus meroket.

Ironisnya, Keong Mas memiliki kemampuan reproduksi yang sangat cepat. Satu ekor induk bisa menghasilkan ribuan telurdalam waktu singkat. Alih-alih menghabiskan energi dan uang untuk membasminya, tim peneliti AKREL mencoba melihat darisudut pandang yang berbeda. Keong Mas memiliki kandunganprotein yang sangat tinggi. Dalam dunia pertanian organik, protein adalah sumber utama Nitrogen (N), unsur yang sangat dibutuhkan tanaman sayuran untuk tumbuh hijau dan rimbun.

Inovasi Fermentasi: Proses “MemasakNutrisi

Penelitian yang dilakukan di Kebun Percobaan AKREL iniberfokus pada bagaimana mengekstraksi protein dari Keong Mas agar bisa diserap dengan mudah oleh tanaman Sawi Pahit(Brassica juncea L.). Rahasianya terletak pada proses fermentasi.

Keong Mas yang dikumpulkan dari lahan tidak langsungdiberikan ke tanaman. Ia harus melalui proses fermentasimelalui bantuan mikroorganisme. Tubuh keong dihancurkan, dicampur dengan air, dan diberi molase sebagai energi bagibakteri pengurai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan POC Keong Mas tanpa menggunakan bioaktivator (starter bakteri) membutuhkan waktu yang sangat lama dan hasilnya kurangoptimal. Namun, dengan penambahan bioaktivator, proses penguraian jaringan tubuh keong menjadi senyawa organiksederhana berlangsung lebih efektif. Cairan yang dihasilkantidak lagi berbau busuk yang menyengat, melainkan aroma fermentasi yang menandakan nutrisi siap saji bagi akar tanaman.

Sawi yang Lebih Hijau dan Rimbun

Untuk membuktikan keampuhan POC keong mas ini, penelitimenerapkan berbagai dosis pada tanaman sawi di lahanpercobaan. Parameter yang diukur sangat mendetail: mulai daritinggi tanaman, jumlah daun, hingga berat basah tanaman saatpanen.

Temuan di lapangan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tanaman sawi yang mendapatkan suplai POC Keong Mas secararutin menunjukkan karakter pertumbuhan yang jauh lebih kuat. Daunnya lebih lebar, warnanya lebih hijau pekat, dan batangnyalebih kokoh. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan unsur hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium alami yang seimbang dalam POC tersebut.

Penelitian ini juga membedah tentang dosis optimal. Pemberiandosis yang terlalu sedikit tentu tidak akan memberikan dampaksignifikan, namun pemberian yang berlebihan juga bisamembuat tanamanstres“. Dosis antara 10 ml hingga 15 ml per tanaman ditemukan sebagai angkaoptimal” yang memberikanhasil tertinggi. Berat segar tanaman sawi saat panen meningkatdrastis dibandingkan tanaman yang hanya dibiarkan tumbuhsecara konvensional tanpa tambahan nutrisi organik.

Ekonomi Sirkular: Solusi untuk Kantong Petani

Apa artinya penelitian ini bagi petani di Rejang Lebong ? Jawabannya adalah kemandirian ekonomi. Bayangkan, seorangpetani tanaman sayuran atau buah-buahan kini tidak perlu lagipusing jika harga pupuk urea naik. Mereka cukup membawaember ke sawah atau kolam, mengumpulkan Keong Mas yang biasanya mereka injak-injak, lalu memprosesnya menjadi pupukdi belakang rumah.

Ini adalah konsep Circular Economy atau ekonomi sirkular yang nyata. Masalah (hama) diubah menjadi solusi (pupuk). Hasil panen sayuran atau buah-buahan pun menjadi lebih sehat karenaminim residu kimia, sehingga memiliki nilai jual yang lebih baikdi pasar organik.

Selain itu, penggunaan POC Keong Mas juga membantumemperbaiki struktur tanah yang mulai jenuh akibatpenggunaan pupuk kimia terus-menerus. Materi organik dalampupuk cair ini membantu menggemburkan tanah dan mengundang kembali cacing tanah serta mikroba baik untukbekerja di bawah permukaan.

Edukasi dan Harapan ke Depan

Meski penelitian ini telah memberikan hasil yang valid, tantangan berikutnya adalah edukasi. Mengubah pola pikirpetani daripembasmi hamamenjadipengolah hamamembutuhkan waktu. Tim peneliti AKREL terus berupayamelakukan sosialisasi agar teknologi sederhana ini bisadiaplikasikan secara luas.

“Kami tidak hanya ingin berhenti di laporan penelitian yang berdebu di rak perpustakaan. Kami ingin petani merasakanlangsung manfaatnya. Keong Mas bukan lagi kutukan, tapibantuan dari alam,”. Ke depannya, penelitian ini diharapkandapat dikembangkan untuk jenis tanaman hortikultura lainnya, seperti cabai atau tomat, yang juga menjadi andalan petaniCurup. Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti Rejang Lebongdikenal bukan hanya karena kopinya, tapi juga karena inovasipertanian organiknya yang ramah lingkungan.

Penutup: Kembali ke Alam

Kisah Keong Mas dan Sawi Pahit di Rejang Lebong ini adalahsebuah pelajaran berharga tentang kearifan dalam bertani. Alam sering kali menyediakan masalah sekaligus solusinya secarabersamaan. Tugas manusia, melalui ilmu pengetahuan, adalahmenemukan benang merah di antaranya.

Dengan memanfaatkan POC Keong Mas, kita tidak hanyamenumbuhkan sawi yang subur, tapi juga menumbuhkanharapan baru bagi pertanian yang lebih berkelanjutan. Mari kitalihat kembali kebun kita. Siapa tahu, solusi atas masalah pupukmahal selama ini sedang merayap pelan di antara daun-daunsawi kita, menunggu untuk diolah menjadi berkah.

Panduan Praktis Membuat POC Keong Mas di Rumah:

1. Siapkan bahan: Ambil 3 kg Keong Mas (bersihkan daritanah), nanas 3 kg, EM4 300 ml, gula merah 300 gram dan air 3 liter.
2. Hancurkan: Tumbuk keong hingga hancur agar cairannyakeluar.
3. Rebus: keong mas selama 10 menit lalu tiriskan
4. Masak air 3 liter campur dengan gula merah lalu dinginkankemudian masukkan EM4 dan nanas yang sudah diblender.
5. Fermentasi: Masukkan semua bahan ke dalam wadah dan tutup rapat wadah, pasang selang pembuangan gas. Simpandi tempat teduh selama 14-21 hari.
6. Aplikasi: Saring cairan, encerkan dengan air (rasio 1:10), dan siramkan pada akar tanaman sawi setiap satu minggusekali.

Artikel ini disusun berdasarkan Laporan Akhir PenelitianKarakteristik Keong Mas sebagai Pupuk Organik Cair (POC) pada Tanaman Sawi Pahit” oleh Andika Prawanto, Dosen dan Peneliti Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong.

 

Penulis: Andika Prawanto, Dosen Budidaya Tanaman Hortikultura, AKN Rejang Lebong

Iklan

Exit mobile version