
Oleh: Andika Prawanto
Dosen : Budidaya Tanaman Hortikultura
NOSANEWS.COM – Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, bukan sekadar wilayah dengan udara sejuk yang menusuk tulang. Bagi siapa pun yang melintasi kawasan Selupu Rejang, pemandangan kebun kopi yang membentang luas adalah wajah asli daerah ini. Kopi bukan hanya komoditas; ia adalah urat nadi ekonomi warga. Namun, di balik kejayaan butir-butir “emas hitam” tersebut, terselip sebuah persoalan lingkungan yang selama puluhan tahun luput dari perhatian serius: gunungan limbah kulit kopi.
Di Desa Air Putih Kali (APK) Bandung, aroma kopi yang harumsaat musim panen seringkali diikuti oleh aroma kurang sedapdari tumpukan kulit kopi yang membusuk di sudut-sudut kebunatau pinggiran jalan. Limbah ini, jika dibiarkan, menjadi sarangpenyakit dan mencemari air tanah. Namun, bagi KelompokWanita Tani (KWT) Sri Kandi, wajah sampah ini mulai berubah. Lewat sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, limbah yang tadinya “musuh” lingkungan, kini disulap menjadi”emas cair” berupa ecoenzyme yang mampu melejitkan budidaya jamur tiram.
Masalah Klasik di Negeri Kopi
Selama ini, petani kopi di Rejang Lebong umumnya hanya fokuspada biji kopi. Setelah proses pengupasan (pulping), kulit kopi biasanya hanya dibuang begitu saja atau paling maksimaldijadikan pupuk kompos ala kadar yang memerlukan waktulama untuk hancur. Penumpukan limbah kulit kopi yang masifberpotensi menghasilkan gas metana dan cairan lindi yang berbahaya bagi ekosistem sekitar.
Rendahnya pengetahuan teknis mengenai pengolahan limbahmenjadi hambatan utama. Padahal, secara ilmiah, kulit kopi mengandung senyawa organik, nutrisi, dan serat yang sangat tinggi. Di sisi lain, KWT Sri Kandi di Desa APK Bandung memiliki semangat untuk mengembangkan usaha sampinganberupa budidaya jamur tiram. Sayangnya, produktivitas jamurmereka seringkali tidak stabil karena ketergantungan pada bahan-bahan kimia atau nutrisi tambahan yang harganya kianmahal.
Melihat celah tersebut, tim dosen dari Akademi KomunitasNegeri Rejang Lebong (AKREL) dan Universitas Pat Petulai hadir membawa solusi melalui program Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP). Tujuannya jelas: melakukan transfer IPTEK untuk menciptakan kemandirian pangan dan ekonomi berbasis lingkungan.
Ecoenzyme: Teknologi Sederhana, Manfaat Luar Biasa
Teknologi yang diperkenalkan adalah ecoenzyme. Secarasederhana, ecoenzyme adalah larutan zat organik kompleks yang diproduksi dari proses fermentasi limbah dapur atau limbahpertanian organik, gula, dan air. Dalam konteks Rejang Lebong, limbah dapur digantikan dengan kulit kopi segar yang melimpah.
Proses pembuatannya mengikuti rasio emas 3:1:10. Artinya, tigabagian kulit kopi dicampur dengan satu bagian gula merah ataumolase, dan sepuluh bagian air. Di bawah bimbingan tim ahliyang terdiri dari Andika Prawanto dan rekan-rekan, ibu-ibuKWT Sri Kandi diajarkan ketelitian dalam proses fermentasi.
“Kuncinya adalah kesabaran. Fermentasi ini membutuhkanwaktu sekitar 90 hari atau tiga bulan,” jelas tim dari AKREL. Selama masa itu, mikroorganisme akan bekerja memecahsenyawa kompleks dalam kulit kopi menjadi enzim-enzim yang bermanfaat seperti protease, amilase, dan lipase. Cairan yang dihasilkan tidak hanya kaya nutrisi, tetapi juga berfungsi sebagai disinfektan alami yang sangat berguna untuk menjaga kesterilan media tanam jamur tiram.
Keajaiban di Rumah Jamur (Kumbung)
Setelah melalui proses fermentasi yang panjang, “emas cair” inisiap diuji coba. Dalam budidaya jamur tiram, kebersihan dan nutrisi media tanam (baglog) adalah penentu utamakeberhasilan. Biasanya, petani jamur menggunakan suplemenkimia untuk mempercepat pertumbuhan. Namun, KWT Sri Kandi mulai beralih menggunakan ecoenzyme yang diencerkan.
Hasilnya cukup mengejutkan bagi para anggota kelompok tani. Dari pengamatan di lapangan pada kumbung yang berisi sekitar500 baglog, jamur tiram yang disemprot dengan larutanecoenzyme menunjukkan tanda-tanda kehidupan lebih awal. Miselium atau serat-serat putih jamur merambat 2 hingga 3 harilebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional.
Tak hanya soal kecepatan, kualitas panen pun meningkat. Tubuhbuah jamur tiram terlihat lebih tebal, lebih putih bersih, dan memiliki daya simpan yang lebih lama. Secara kuantitas, bobotpanen perdana tercatat naik sekitar 12%. Peningkatan ini, meskiterlihat kecil secara persentase, memiliki dampak ekonomi yang besar jika diterapkan pada skala ribuan baglog. Biaya produksi bisa ditekan karena petani tidak perlu lagi membeli suplemen nutrisi komersial, sementara hasil panen justru lebih melimpah
Memberdayakan Perempuan, Menjaga Alam.
Keberhasilan ini membawa dampak sosial yang signifikan di Desa Air Putih Kali Bandung. Ibu-ibu yang tergabung dalamKWT Sri Kandi kini memiliki rasa percaya diri baru. Merekabukan lagi sekadar pendukung di kebun kopi suami, melainkanaktor utama dalam unit usaha mandiri yang ramah lingkungan.
Peningkatan pengetahuan kelompok tani mencapai angka 95% berdasarkan evaluasi pasca-pelatihan. Mereka kini memahamikonsep circular economy atau ekonomi sirkular. Dalam konsepini, tidak ada yang terbuang sia-sia. Sampah dari proses pengolahan kopi dikembalikan ke alam untuk menjadi nutrisibagi jamur, dan sisa media tanam jamur nantinya bisadikembalikan lagi ke kebun kopi sebagai pupuk organik yang sempurna. Inilah siklus alam yang seharusnya terjadi.
Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggilokal seperti Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong dan Universitas Pat Petulai memiliki peran vital dalam memajukandaerah. Teori-teori ilmiah yang tadinya hanya ada di ruangkelas, kini menjelma menjadi solusi nyata di tangan masyarakatdesa.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Tentu saja, perjalanan ini tidak tanpa kendala. Perubahan suhuudara di wilayah Curup yang kadang ekstrim menuntut ketelitianekstra dalam menjaga wadah fermentasi agar tidakterkontaminasi. Selain itu, konsistensi dalam perawatan harianrumah jamur memerlukan manajemen waktu yang baik di antarakesibukan ibu-ibu sebagai ibu rumah tangga.
Namun, antusiasme warga dan dukungan dari Pemerintah Desa Air Putih Kali Bandung menjadi bahan bakar untuk terusmelangkah. Perangkat desa mulai melirik potensi ini untukdijadikan salah satu program pemberdayaan ekonomi desa yang berkelanjutan. Bahkan, muncul gagasan untuk mengemasecoenzyme kulit kopi ini sebagai produk unggulan desa yang bisa dipasarkan ke luar daerah.
Potensi pengembangan ke depan sangat luas. Jika hari iniecoenzyme kulit kopi digunakan untuk jamur tiram, bukan tidak mungkin esok hari cairan sakti ini digunakan untuk meningkatkan kualitas produksi cabai, tomat, atau sayuran hortikultura lainnya yang menjadi kebanggaan Rejang Lebong.
Penutup: Warisan untuk Masa Depan
Menulis tentang keberhasilan KWT Sri Kandi adalah menulistentang harapan. Di tengah isu perubahan iklim dan degradasilingkungan, apa yang dilakukan oleh sekelompok wanita tani di kaki bukit barisan ini adalah sebuah oase. Mereka mengajarkankita bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari hal yang paling kecil: mengelola sampah di sekitar kita.
Limbah kulit kopi yang dulunya hanya dipandang sebelah mata, kini telah naik kelas. Melalui sentuhan IPTEK dan kerja keras, ia berubah menjadi sumber kehidupan baru. Kisah dari Desa Air Putih Kali Bandung ini adalah pengingat bagi kita semua, bahwaalam selalu menyediakan jawaban atas masalah kita, asalkankita mau belajar dan berusaha.
Bagi masyarakat Rejang Lebong, inilah saatnya kita melihatkebun kopi kita dengan cara yang berbeda. Bukan hanya soalbijinya yang mendunia, tapi juga soal bagaimana kitamemperlakukan seluruh bagian dari pohon kopi tersebut denganpenuh rasa hormat terhadap alam. Mari kita ubah limbah menjadi berkah, demi anak cucu dan bumi yang lebih hijau.
Tips Singkat Membuat Ecoenzyme Kulit Kopi ala KWT Sri Kandi:
Penulis adalah Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Pemula(PMP) 2025 yang berdedikasi untuk kemajuan pertanian organik di Rejang Lebong.
Penulis: Andika Prawanto. Dosen Budidaya Tanaman Hortikultura AKN Rejang Lebong.